PPMN Gelar Pelatihan Gender In Media


JAYAPURA ( trelepmedia.com ) - Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) melalui Jurnalis Warga Kota Jayapura melaksanakan kegiatan Membangun Media Yang Berperspektif Gender Sebagai Ruang Aman Bagi Perempuan. 13/11/2021

PPMN merupakan organisasi nonprofit yang bertujuan untuk mengembangkan profesionalisme media dan memperluas akses informasi di Indoensia serta berbagai Negara di Asia, melalui peningkaan kapasitas pekerja media, baik dalam skala nasional maupun local.

Kegiatan ini di fasilitasi oleh Hiswita Pangau dari Jurnalis Warga (JW) bersama narasumber dari Paralegal LBH Papua dan  9 orang jurnalis, dan kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Training Of Trainer (TOT) yang dilakukan oleh Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) yang telah dilakukan sebelumnya secara virtual. 

Penyelenggaraan pelatihan jurnalistik berbasis perspektif gender kepada praktisi media ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang komprehensif kepada praktisi media. Sehingga dalam mengkonstruksi dan menganalisis nilai-nilai sosial yang berbasis gender bisa memberikan nilai-nilai yang konstruktif dan mendorong kemajuan kesetaraan gender serta menjadi ruang aman bagi perempuan.


“Media  memiliki peran sangat penting, dalam menyuarakan suara-suara masyarakat yang terbungkam. Pun dalam konteks ini, media diharapkan melakukan kontrol terhadap adanya perlakukan dikriminasi terhadap perempuan. Jurnalis yang paham isu gender sangat dibutuhkan dalam membuat berita, melalui kegiatan ini diharapkan media dapat menyajikan berita yang berperspektif gender dan seorang jurnalis yang adil gender ” ucap Hiswita


Begitu juga yang disampaikan oleh Elsa Desi, selama menjadi paralegal LBH Papua banyak kasus-kasus kekerasan yang terjada terhadap perempuan yang jarang di angkat oleh media, dan bahkan jika ada kasus pekerja seks yang mengalami ketidakadilan, terkadang pemberitaannya lebih kea rah pekerjaan atau pakaian yang digunakan atau cenderang menggirng opini masyarakat yang menimbulkan stigma. Sehingga banyak perempuan sulit untuk terbuka pada media karena terkadang media juga menjadi pelaku ketidakadilan gender, salah satu penyebabnya adalah kurangnya pemahaman media tentang isu kesetaraan gender jadi manajemen harus punya nilai adil dan setara.


Elsa Desi Juga menambahkan bahwa, kegiatan ini menarik dan seharusnya dilakukan secara terus menerus agar semakin membangun kesadaran kritis media dan pemimpin redaksi untuk sensitive dan peka terhadap isu ini. Pungkasnya


Sementara Jems yang juga salah satu Jurnalis yang hadir menyampaikan bahwa, memang sudah seharusnya media mendapat pelatihan tentang isu ini tetapi juga melibatkan pemimoin redaksi akan jauh lebih menarik agar setiap elemen terlibat. Dan juga perlu kerjasama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan agar jika ada kasus-kasus perempuan yang di tangani dapat melibatkan kami jurnalis. 


Beberapa pernyataan juga di sampaikan oleh Pak Hank salah satu perwakilan dari jurnalis warga yang juga aktif dalam bidang seni, bahwa Papua adalah daerah dimana kuat dengan adat, budaya dan tradisi sehingga masih banyak daerah yang memang membatasi perempuan termasuk dalam pengambilan keputusan atau terlibat didalam kegiatan-kegiatan, karena perempuan dianggap tidak berhak dan hanya bolh didapur menyiapkan makanan, apalagi jika ada acara-acara atau bahkan perempuan tidak diberhak mengontrol jumlah anak, dan masih banyak hal yang memang perlu di gaungkan dan itu harus terus menerus, itulah peran media harus kuat disitu. Ucapnya


Sedangkan menurut Iren bahwa  pemimpin dalam manajemen media memang harus melibatkan perempuan dan harus kental dengan kesetaraan gender, agar lebih mudah mendorong berita-berita yang mengedukasi serta menyuarakan keadilan bagi perempuan , kalau bukan kitong siapa lagi yang mo bicara dan menyuarakan, perempuan bukan hanya ibu rumah tangga tetapi juga perempuan pekerja seks, itu harus jadi perhatian, banyak perempuan akhirnya diam karena kekerasan berlapis sering di alami termasuk dari media dalam pemberitaan yang tidak sensitive gender”. ucap perempuan yang juga terlibat dalam pembuatan film-film documenter bersama Papuan Voices


Kegiatan yang berlangsung beberapa jam ini memberikan banyak gambaran tentang pentingnya sosialsiasi gender dikalangan media dan juga pemimpin dalam manajemen media agar membangun kesadaran kritis akan isu keseteraan gender. Bahkan beberapa harapan muncul dalam sesi terakhir yaitu berharap PPMN dapat memfasilitasi kegiatan secara berkelanjutan untuk melibatkan jurnalis-jurnalis lain untuk terlibat. 


Berbagai materi disajikan yaitu konsep gender,  pentingnya manajemen media yang berperspektif gender serta  bentuk-bentuk ketidakadilan gender , yang kemudian diinternalisasikan kedalam kehidupan sehari-hari sehingga mudah dipahami oleh setiap peserta dapat dilihat dalam proses dimana semua peserta aktif mengikuti proses dan bahkan berbagi cerita tentang pengalaman hidup sebagai korban dari kontruksi social, baik sebagai korban maupun menyadari bahwa terkadang menjadi pelaku ketidakadilan namun tidak disadari, dan ini membuat proses semakin menarik. 


Pada akhir sesi seluruh peserta berharap ini menjadi PR bersama dan semoga dapat diteruskan kepada sesame jurnalis termasuk pimpinan, dan akhirnya memahami bahwa kesetaraan gender harus dimulai dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan agar meminimalisir ketidakadilan terhadap perempuan. 


“Sejatinya bahwa, kegiatan ini adalah mengajak kita semua untuk terlibat didalam penurunan kekerasan berbasis gender, dan itu dimulai dari diri sendiri termasuk mengedukasi dan memberi pemahaman kepada jurnalis dalam mengemas suatu berita agar berperspektif gender dan mengedepankan martabat setiap orang tak terkecuali perempuan, anak dan kelompok rentan. Semoga dalam kepemimpinan dan manajemen media juga dapat menjunjung nilai kesetaraan dan adil gender. Mari Kitong Konsisten Untuk Menjadi Bagian Dari Perubahan” . ucap Hiswita menutup sesi kegiatan  




0 Response to "PPMN Gelar Pelatihan Gender In Media"

Post a Comment