Repelita Ala Aseng

Analisa sosial
REPELITA ALA ASENG
Oleh : Anas Famora

Negara tercinta ini sedang memasuki babak baru yaitu REPELITA JANGKA PANJANG (25 tahun)
Sebuah grand design yg luar biasa hebat, halus cara kerjanya dan sangat strategik. Diakhir repelita, penduduk Ibdonesia diperkirakan bisa mencapai setengah milyar lebih. Grand design ini dimotori oleh swasta aseng dg menggunakan jalur birokrasi yg seolah itu program pemerintah. Analisa asumsi penulis sbb:
PELITA I adalah pembangunan infrastruktur
PELITA II  adalah pembangunan ekonomi
PELITA III adalah pembangunan fisik dan perumahan
PELITA IV  adalah pembangunan sdm dan mendatangkan penghuni perumahan
PELITA V adalah pembangunan birokrasi ala Aseng.

Didalam pelita I yg sedang berjalan ini, pemerintah sdh mulai mrngeluarkan peraturan2 pemerintah yg bagi bangsa ini sangat membahayakan. Dimana ada peraturan bebas visa, bangsa asing boleh membeli tempat tinggal tanpa batas dll. Peraturan2 yg bersifat global ini harusnya ditahan dulu. Bangsa ini masih hrs bebenah diri dulu dan terlebih dahulu disosialisasikan lebih intensif  apakah sdh saatnya apa belum. Menurut analisaku hal ini terlalu terburu buru sehingga banyak menimbulkan gejolak dimasyarakat.  Pemerintah sdh membolehkan warga asing membuat ormas. Jangan2 nanti suatu saat Donald Triump setelah bosan jd presiden di amerika akan menjadi presiden di Indonesia. Hal ini kenapa tidak. DT tinggal beli rumah di Indonesia lalu msk WNI secara on line. Selesai sdh. Tinggal tebar pesona indah dg uangnya yg besar lalu nyalon presiden. Rakyat dibeli suaranya dan para cecunguk politik dicucuk hidungnya dg bau harumnya uang, maka sempurnalah DT bisa melenggang jd presiden kita. Ampuuuuun bapak semoga hal ini cuma bayang ketakutan dan kekhawatiranku saja.
Harusnya di pelita I ini pemerintah bisa menghidupkan ekonomi kerakyatan dulu biar taraf hidup rakyat tambah makmur.
Didalam PELITA II setelah pembanguna fasiltas perekonomian sdh mulai merata hampir disetiap kabupaten dg mulai dipersiapkan kawasan2 industri dan perumahan utk menyongsong pelita berikutnya. Kasus ini skrg sdh mulai ramai didaerah dg adanya pembebasan  lahan yg ribuan hektar hampir ditiap kabupaten. Hal ini sdg terjadi pelaksanaan saat ini. Dan dalam pelita II pabrik pabrik sdh mulai operasinal dan para pemiliknya sdh bisa ditebak dr sekarang.
Menjamurnya pabrik ditiap kabupaten konsekwensi logisnya naiknya PAD dan kesejahteraan masyarakat sekitar dan otomatis akan terjadi lonjakan kebutuhan tenaga kerja. Siapa yg hrs mengisi peluang ini ... ya hrsnya warga sekitar baru pendatang sekitar. Termasuk para profesionalnya. Tp realita yg ada khususnya utk kedudukan level manager keatas diimport dr daerah lain yg notabennya bangsanya sang majikan.
Hal semacam ini sdh terjadi dg berbagai alasan bahwa warga setempat dikatagorikan blm siap sdm nya. Sangat memprihatinkan memang tp hasil akhirnya sebenarnya bukan cuma itu (mudah2an penulis salah berasumsi, mohon maaf). Kalaupun diposisi, dibawah manager dan dipegang warga pribumi dan diasisteni warga sang majikan tetap ada perbedaannya khususnya difasilitas lain dan salary.
Penulis pernah coba korek sama pekerja yg punya asisten bangsanya sang majikan, kadang ucapan sang majikan sangat menyakitkan. Contoh kalimat yg pernah diucapkan oleh pegawai pribumi dg bos aseng.
Pegawai : Bos, masa gaji saya dg asistenku yg baru masuk gedean asistenku?
Sungguh jawaban yg sangat menyakitkan yg keluar.
Bos : Demi bangsaku, kalaupun dia nganggur aja, pasti oi kasih duit, apalagi dia kerja.
Dengan dongkolnya akhirnya sipegawai tsb mebgundurkan diri, krn kecewa asistennya yg baru bergaji dua kali lipat. Ini salah satu kejadian diwilayah Pekalongan jawa tengah.
Hal ini patut jadi renungan kita semua, bagaimana jadinya kalau nantinya para aseng sudah bisa menguasai perekonomian didaerah daerah. Akan jd apa negri ini kedepannya.

Lain lagi kejadian disubang jawa barat.  Seorang aseng yg aku kenal baik cerita sekitar setahun sebelum kejadian dan sekarang terbukti apa yg aseng ucapkan pada saya saat itu. Kejadiaannya saat itu terjadi pembebasan lahan dg ploting yg sdh aseng ajukan, tp sibupati memilih aseng lain yg pastinya ada point plusnya. Kawanku ngamuk dan ngomong sama aku yg kira2 kalimatnya sbb: Kurang ajar ini bupati diajak kerjasama gak mau, awas pasti aku masukin kepesantren ( dimasukin penjara ) nanti. Dalam hati aku bergumam. Wah...wah para aseng sdh berani ngancam pejabat.
Dan ucapannya dibuktikan sekarang bupati subang sedang sekolah. Semua kejadian tetsebut diatas aku dengar langsung dimana siaseng kawanku itu orang kedua dr konglo aseng.
Dua kejadian ini membuat aku miris dan menerawang jauh gimana nantinya kl para aseng yg mulai sekarang sdh menuai kebebasan gerak yg mengatas namakan undang2 bagaimana nasib bangsa ini nantinya.

Didalam PELITA III perumahan sdh harus mulai dihuni dan kalo warga setempat gak mampu beli otomatis dari luar yg akan jadi penghuninya. Sedang lapangan kerja sdh tersedia oleh majikan aseng. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un... ..perumahan yg ribuan hektar dihuni para exodus dr bangsa aseng. Bencanalah yg warga setempat akan didapat.

Dalam PELITA IV  dg semua fasilitas yg tersedia dg didukung peraturan pemerintah yg membolehkan warga asing memiliki tempat tinggal dan bisa ganti ktp secara on line, pastilah para pahlawan kita akan menjerit nangis krn hasil perjuangannya dinikmati bangsa lain yg sebenarnya juga disebut penjajah. Seperti VOC. Maka jayalah Indonesiaku dg penduduk diatas setengah milyar.
Pertanyaannya dari mana para aseng mendapatkan dana segarnya. Sangat sangat mudah menjawabnya yaitu dg ASSET MANAGEMENT TRADING. Satu langkah lagi masyarakat kita dibodohi.

Dalam PELITA V warga exodus dari aseng khususnya sdh semakin eksis khususnya dr sisi ekonomi, maka akan lebih mudah utk beternak pejabat bahkan para aseng sdh bisa jadi pejabat. Lengkaplah sudah penjajahan dg tidak harus berperang pisik dan berbiaya besar.
Birokrasi adalah PUNCAK TUJUAN yg diperjuangkan. GRAND DESIGN  sdh hampir selesai.
Dengan kondisi pemerintahan saat ini, bisa jadi seorang Donald Trump nanti kl sdh bosan jd presiden di amerika, bisa pindah jd presiden di indonesia, kenapa tidak? Undang undang dasar kita sdh membolehkan. DT tinggal beli rumah di Indonesia lalu ndaftar ktp on line, jadilah DT WNI gak ada susahnya. Dg modal yg besar buat partai atau gabung partai lain dan di pemilu tinggal nyalonkan diri jd presiden. Maka kiamatlah bangsa ini.

CARA MENYIKAPI SEMUA INI CUMA SATU .........KEMBALILAH KE UUD 45 SEPENUHNYA JANGAN ADA EMBEL EMBEL...............

Share ke group lain biar melek mata hatinya.
Krn kondisi ini sdh sangat terasa didaerah daerah bagi yg masih mengharap NKRI HARGA MATI  bukan cuma dimulut.

0 Response to "Repelita Ala Aseng"

Post a Comment